Jumat, 30 Maret 2012

Paradigma Kebudayaan Islam Studi Kritis dan Refleksi Historis


Lathifah Mutiq
09410248/ PAI-D
Pengembangan Seni dan Budaya dalam PAI
Ibu Nur Saidah, M. Ag

            Judul Buku      : Paradigma Kebudayaan Islam Studi Kritis dan Refleksi Historis
            Penulis             : Dr. Faisal Ismail, MA
            Penerbit           : Titian Ilahi Press, Yogyakarta
            Tebal Buku      : 289 hal, 21 cm
            Cetakan           : Ke-2 tahun 1998         

Paradigma Kebudayaan Islam Studi Kritis dan Refleksi Historis
Oleh : Dr. Faisal Ismail, MA
            Dalam buku ini beliau mencoba untuk memaparkan tentang paradigma kebudayaan Islam studi kritis dan refleksi historis. Dalam buku ini terbagi menjadi lima bagian yaitu: bagian pertama berisi tentang agama dan kebudayaan dan hubungan antara keduanya, bagian kedua mencoba untuk menyoroti secara umum sosok dan situasi pendidikan dan kebudayaan di Indonesia, bagian ketiga membahas tentang keberimanan dan kebersenimanan, bagian keempat membahas tentang Islam dalam kaitannya dengan moralitas dan modernitas, dan bagian kelima membahas tentang sketsa sejarah kebangkitan kebudayaan Islam.  
Dilihat dari segi ilmiyah dan dari segi akidah dieniyah tentang agama Islam dalam kaitannya dengan kebudayaan dan peradaban, berarti bahwa kita memelihara kesejatian dan orisinalitas agama Islam sebagai wahyu, menepatkan secara proposional kedudukan agama dan kebudayaan pada posisinya sendiri-sendiri, menundukkan nisbah, relasi dan relevansi antara agama dan kebudayaan menurut garis akidah Islam. Dalam penyusunan konsep kebudayaan dan cultural universals (unsur-unsur pokok yang pasti ada dalam setiap kebudayaan) selalu memasukan agama sebagai salah satu unsur kebudayaan. Kebudayaan adalah khas manusia, masyarakat tidak dapat dipisahkan dengan kebudayaan karena keduanya merupakan suatu jalinan yang saling berkaitan. Kebudayaan tidak akan ada tanpa masyarakat, betapa terasingnya hidup mereka jika tanpa adanya budaya. Yang membedakan hanyalah tingkat dan taraf kebudayaan yang dimiliki tiap masyarakat. Kebudayaan dan peradaban ini dibedakan, namun hanya soal istilah saja. Peradaban biasanya dipakai untuk bagian-bagian dan unsur-unsur kebudayaan yang halus dan indah seperti: kesenian, ilmu pengetahuan, serta sopan santun dan sistem pergaulan yang kompleks dalam suatu masyarakat.
Agama merupakan bagian dari kebudayaan, M. Hatta mengatakan bahwa kebudayaan adalah ciptaan hidup daripada suatu bangsa. Kebudayaan banyak sekali macamnya. Agama juga suatu kebudayaan, karena dengan beragama manusia dapat hidup dengan senang. Gazalba berpendapat bahwa agama Islam dan kebudayaan Islam itu setingkat dan masing-masing merupakan bagian dari Islam. Agama Islam mengenai kehidupan akhirat nanti, dan kebudayaan Islam mengenai kehidupan dunia sekarang.
Jika ummat Islam mampu melancarkan gerakan dan menghidupkan kembali dinamika kebudayaan dan peradabannya, maka makna kebangkitan kembali Islam yang dicangkan mulai abad 15 H merupakan awal pertanda yang baik. Makna kebangkitan Islam dalam suatu segi harus diartikan dan ditopang dengan kebangkitan kultural ummat Islam. Pendekatan terhadap kebudayaan tidak semata-mata bersifat teoritis, tetapi juga bersifat praktis. Manusia dapat mengatur dan merencanakan arah kebudayaan di masa depan. Hal ini melahirkan pemikiran perlunya strategi kebudayaan, yang memungkinkan terciptanya amal-amal kultural dan karya-karya budaya. Strategi budaya harus mampu menggerakkan daya kreatif dan daya potensial ummat dalam memberi warna dan arti bagi kebangkitan kembali Islam dan ummatnya. Strategi kebudayaan dalam suatu segi harus bermakna dan berintikan pembaharuan pendidikan Islam, karena pendidikan merupakan sub-sistem dalam keseluruhan sistem budaya.
Subordinasi kesenian kepada agama ada segi positifnya yaitu adanya dasar yang kuat untuk memperkembangkan kesenian karena betapapun kesenian harus selalu mengandung nilai-nilai. Kuntowijoyo menilai tentang situasi kesenian Islam dan prospeknya bahwa kemacetan kesenian Islam di Indonesia tidak diragukan lagi. Ada gejala bahwa kesenia Islam di Indonesia akan macet bahkan akan lenyap sama sekali. Salah satu penyebabnya adalah karena ummat Islam belum banyak mempunyai kesempatan yang begitu leluasa untuk mengembangkan potensi kesenian. Jika prediksi Kuntowijoyo benar bahwa dalam waktu dekat kesenian Islam di Indonesia akan mengalami kemacetan, maka kita akan menyaksikan suatu potret muram dunia seni budaya Islam di Indonesia. Ummat Islam yang bangga dengan mayoritas jumlah pengikutnya adalah terlalu miskin dalam bidang seni budayanya, suatu ketimpangan dan kepincangan yang sangat serius karena ummat Islam tidak hadir secara kreatif dalam kehidupan kultural masa kini.
Sebagian angkatan muda Islam, lebih menyukai kebudayaan Barat dari pada kebudayaan Islam. Keadaan ini perlu diagnosis baru kemudian dilakukan therapi. Ada dua diagnosis yaitu kesenia ummat Islam berjalan dan hidup tradisional, kurang menarik minat dan selera di kalangan angkatan muda dan seni budaya ummat Islam kurang kreatif-inovatif dan variatif dan juga ketinggalan dalam bobot dan kualitas. Maka sebagai therapi gejala ini sudah waktunya ummat Islam terutama kaum seniman dan budayawan menciptakan kreasi, inovasi dan pengayaan baru di bidang seni budaya Islam modern yang memenuhi standar kualitas estetika. Jika ini dilakukan akan tercipta gairah dan etos kerja yang besar yang dapat mendorong kesenian dan kebudayaan Islam berkembang maju, baik dalam kualitas maupun kuantitas.
Kekreatifan manusia salah satunya dibuktikan dalam dunia mode. Dunia mode adalah dunia yang penuh pesona, dunia yang gemerlap. Apabila kita mengikuti perkembangan dunia mode maka akan tampak jelas bahwa mode itu tidak statis tetapi terus menerus mengalami perubahan. Terbukti bahwa manusia selalu menciptakan hal-hal baru. Dengan akallah manusia dapat mengembangkan daya kreatifitasnya sehingga dapat menciptakan segala sesuatu sesuai dengan keinginannya. Untuk memperkenalkan koleksi mode khususnya pakaian tidak cukup hanya lewat iklan tapi juga promosi dengan mengadakan fashion show atau dikenal dengan peragaan busana. Selain pakaian yang menjadi mode juga beauty contest atau dikenal dengan kontes kecantikan.
Apakah Islam menolak mode? Tentu jawabannya tidak, sepanjang pengetahuan memang tidak ada dan tidak ditemukan dalam ajaran Islam tentang cara mendesain pakaian. Al-Qur’an dan Hadist pun tidak pernah menyinggung pesoalan mode pakaian. Jadi Islam tidak memberikan ketetapan atau kepastian bahwa mode itu harus begini atau harus begitu. Karena soal cipta mencipta mode termasuk masalah yang berdimensi duniawi ataupun termasuk masalah kebudayaan.
Agama berfungsi untuk mengatur, membimbing hidup dan kehidupan manusia. Agama merupakan sumber utama dan pertama nilai-nilai moral. Moral Islam bersumber pada wahyu Allah yang mutlak dan absolut kebenarannya, maka ia memiliki kemutlakan dan kelengkapan susunan moral yang sempurna dan memiliki pula ciri-ciri khas tersendiri. Islam telah memiliki satu sistem moral yang lengkap dan sempurna, suatu sistem moral ideal, jamal dan kamal, yang sangat dibutuhkan ummat manusia dari sejak zaman dahulu sampai era postmodern dewasa ini, bahkan sampai hari esok dan masa yang mendatang. Islam memberikan sumbangan etika kepada ummat manusia dan dapat membawa mereka kepada kehidupan damai, aman dan sejahtera sepanjang masa dalam seluruh segi kehidupan spiritual dan material, tidak hanya di dunia tetapi dalam kehidupan yang abadi.
Banyak pengetahuan yang dapat kita ambil dari buku ini, khususnya tentang paradigma kebudayaan Islam, bahasa yang digunakan cukup bisa untuk dimengerti. Namun perlu adanya penelaahan yang mendalam dalam mengakaji buku ini karena bagian yang satu dengan bagian yang lain kurang bisa menyatu secara sempurna, karena buku ini terdiri dari kumpulan karangan dan makalah dan juga agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam  memahami buku ini. Akan tetapi sama-sama membicarakan persoalan moralitas, modernitas, agama dan kebudayaan.
Buku ini diharapkan dapat memperkaya khazanah ilmu pengetahuan dan dapat memberikan sumbangsih bagi para pembaca, baik mahasiswa, praktisi pendidikan, dosen, maupun pihak lain yang menaruh minat terhadap kebudayaan Islam.



2 komentar:

  1. Novita Rahmawati (09410183)
    Modernitas membawa dampak dalam berbagai bidang termasuk dalam dunia mode, dimana banyak orang yang tidak mau ketinggalan mode agar dibilang modern, gaul, tidak kuper, dsb. Islam sendiri sebenarnya tidak membatasi pengembangan mode, asal sesuai dengan ajaran yang ada dalam islam. Semisal tentang pakaian wanita, tidak masalah mau mendesain pakaian yang seperti apa modelnya asalkan bisa menutup aurat dan tidak menonjolkan aurat wanita. Disini hanya perlu kreativitas kita.

    BalasHapus